suka duka DAT 2010

•January 15, 2010 • 3 Comments

Tanggal 11-14 Januari 2010 kemarin Keluarga Mahasiswa  ITB ngadain Diklat Aktivis Terpusat 2010 di wisma UNISBA, Ciburial, Bandung. Acara ini tujuannya adalah:

  1. menumbuhkan kembali semangat “satu ITB”
  2. mewujudkan kader-kader yang dapat menjadi teladan (role model) bagi lingkungan kemahasiswaannya
  3. Menumbuhkan sikap kritis (sense of crisis) terhadap isu-isu ke-Indonesia-an yang bersifat aktual

Saya adalah salah satu peserta yang ikut berpartisipasi di acara ini sebagai perwakilan Unit kesenian Sul-sel. Di diklat ini kami diberikan berbagai materi sebagai tambahan wawasan untuk meningkatkan kompetensi kami sebagai seorang aktivis nantinya. Tentunya dengan pemateri yang berkompeten, silakan search aja di google nama-nama beberapa pemateri ini : Ridwan Kamil, Akhmaloka, Pidi Winata, Syarif tando.

Materinya ada macam-macam, mulai dari tentang gerakan kemahasiswaan di ITB dan nasional, tentang ITB sendiri, pendidikan, creativepreneurship, dan masyarakat ideal. Kami juga diarahkan untuk bisa mengenal potensi lembaga dan diri masing-masing. Intinya, kami diharapkan untuk dapat mengoptimalkan itu semua dalam community development dengan mengkolaborasikan potensi semua lembaga di ITB khususnya himpunan yang berbasis keprofesian.

Yah, cukup tentang isi acara, selanjutnya saya akan berbicara tentang suka duka yang saya alami di acara ini. Sukanya dulu deh, fasilitas DAT 2010 ini bikin saya betah banget dah ngikutin acara, trus view dari wisma ciburial bener bikin mata fresh dan terucaplah kalimat pujian untukNya. Di acara ini juga saya dapat banyak kenalan2 hebat2, meskipun dari 120an peserta saya cuma bisa kenal dengan 60an orang (serius nih,,,gw catat malah nama2nya).

Yang paling berkesan juga, simulasi integritas berkedok simulasi dagang, waktu itu di kelompok saya, saya dimanahi jadi bagian marketing dan alhamdulillah jadi marketer paling sukses dengan keuntungan terbesar, hoho

Ada juga saat-saat paling seru pas naik truk bareng2 menuju desa kidang pananjung, medan yang dilalui bener2 membuat peserta DAT ga bisa diam selama perjalanan,,,kalo dianalogikan kayak wahana halilintar di dufan, naik turunnya ekstrim,,hahaha

Kalo dukanya, gw pas DAT ini kehilangan dompet yang isinya duit sekian ratus ribu (unsure), KTM, KTP, n kartu2 penting lainnya, hiks mudah2an ada hikmahnya, mungkin ini teguran langsung dari Allah, Allahummaghfirlii dzunuubii…

Mungkin itu dulu deh,,wassalam

1. Mewujudkan kader-kader yang dapat menjadi teladan (role model) bagi lingkungan kemahasiswaannya

2010: Tahun Amanah

•January 10, 2010 • Leave a Comment

Tahun 2010 adalah tahun amanah buat saya. Bukan berarti tahun-tahun sebelumnya saya tidak memegang amanah apapun, tapi 2010 inilah puncak dari amanah yang saya pegang di kampus ITB hingga saat ini. Pada 2010 inilah mahasiswa ITB angkatan 2007 yang akan memegang kendali kepengurusan di himpunan maupun unit kemahasiswaan.

Mahasiswa 2007 lah yang saat ini melanjutkan estafet kepemimpinan pada lembaga-lembaga tersebut. Momen ini akan menjadi tantangan untuk mengukur sejauh mana ilmu-ilmu kemahasiswaan yang didapat selama kurang lebih 2,5 tahun di Bumi Ganesha.

Saya sendiri memegang beberapa amanah di tahun 2010 ini, tidak usah saya sebutkan di sini. Insya Allah saya berkomitmen untuk memprioritaskan amanah di LDPS karena menurut saya amanah inilah yang paling berat. Tentu saja saya tidak bermaksud meremehkan amanah yang lain, saya akan berusaha mengatur waktu sebaik mungkin agar amanah-amanah terurus dan akademik jalan terus, hehe :)

Ya Allah, berilah hambaMu ini kekuatan untuk mengemban amanah-amanah ini…Amin

Protected: Target 2010

•January 1, 2010 • Enter your password to view comments

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Catatan Si Korlap

•August 13, 2009 • 4 Comments

“Ekskursi Arsitektur Bali 2007 berakhir sudah…” mungkin kalimat tersebutlah yang pertama kali terbersit di pikiran saat bus JP yang kami kendarai tiba dengan selamat di gerbang ganesha. Bukan berarti saya senang tanggung jawab sebagai korlap ekskursi berakhir, tapi lebih ke rasa syukur bahwa semua teman-teman arsitektur 2007 tiba dengan selamat, hufff…

Kira-kira satu minggu sebelum perjalanan ekskursi dimulai, teman saya Monic sebagai orang nomor satu ekskursi kali ini mengangkat saya sebagai korlap ekskursi. Terus terang saya senang banget soalnya bisa dipercaya sama temen-temen untuk tanggung jawab tersebut, makanya saya langsung terima saja tanpa banyak nanya (kapan lagi cuy bisa jadi korlap? hehe :P ). Tugas saya sebagai korlap adalah mengkoordinasi semua panitia dan peserta (baca: temen2) selama ekskursi agar ekskursi berlangsung lancar dan sesuai teklap.

Selama ekskursi berlangsung, saya mengalami sedikit kesulitan dengan teklap yang berubah-ubah karena minimnya pengetahuan mengenai lapangan. Ini dikarenakan hanya beberapa panitia inti (saya tidak termasuk) yang melakukan survey di  lapangan sebelum ekskursi, itupun tidak maksimal (kan susah juga klo mau menjelajahi bali pas masa-masa kuliah berlangsung, belum lagi duit buat ke sananya).

Yang paling susah dikoordinasi tu ada 3, yang pertama pas ‘nyuruh’ temen2 buat naik ke bis secepatnya karena rombongan sudah harus berangkat jam 8 pagi dari hotel menuju objek ekskursi. Yah pengennya sih jam 8 tapi selalu aja ngaret karena ada yang telat bangun, mandi, sikat gigi, pakai sabun,  dandan dan sarapan (wah lebay nih! padahal cukup telat bangun aja). Klo kayak gini bisa ngaret 15 menitan. Paling parah pas hari terakhir, sampai ngaret setengah jam karena ada yang telat bangun dan musti balikin motor sewaan dulu ke Kuta (dari hotel jaraknya lumayan jauh, 30 mnt perjalanan).

Yang kedua, pas mengkoordinasi temen2 untuk kembali ke bus masing2 setelah menikmati objek ekskursi. Meskipun udah diakalin waktunya tetep aja ngaret 15 menitan. Jadinya musti ngehitung temen2 berulang-ulang, takut ada yang kurang atau lebih :P .

Yang ketiga, pas mengkoordinasi ibadah shalat buat yang muslim. Di bali mah susah pisan nyari masjid, terutama pas kunjungan ekskursi ke kawasan Ubud yang sama sekali tidak ada masjid. Terpaksa saya minta temen2 muslim buat wudhu dulu sebelum balik ke bus, dan musti shalat sendiri di bus. Sebenarnya mau bikin mushola sendiri tapi terkendala oleh “tradisi dan budaya” masyarakat sekitar yang sangat banyak aturan terutama untuk hal2 yang berbau ritual yang mereka anggap tidak biasa.

Selain ketiga hal tersebut, ada satu lagi hal yang menunjukkan “g enaknya jadi korlap”, saat semua teman2 bisa menikmati objek2 arsitektur dengan riangnya, saya malah sibuk ngeliatin jam dan ‘memerintah’ temen2 untuk kembali ke bus klo waktunya dah habis, musti sweeping seluruh wilayah jgn sampai ada yang ketinggalan. Jadinya g enjoy deh.

Tapi jadi korlap gak melulu ‘menderita’ kok, ada enaknya juga. Hmmm…apa ya? bisa bangun lebih pagi, sudah pasti mandi tiap hari, akrab dengan kru2 bus, dimintain nomor hape (g penting :P ), dan beberapa hal yang g bisa saya sebutkan disini, hehe…

Terakhir, ucapan terima kasih buat temen2 ekskursi arsitektur Bali yang mau bekerja sama selama ekskursi berlangsung. Terima kasih juga karena sudah mengapresiasi saya sebagai korlap, hehe… Arigato gozaimasu

Gw dan Tukang Parkir

•June 25, 2009 • 2 Comments

Dalam 3 hari ini gw dapet pengalaman yang melibatkan tukang parkir…

Yang pertama pas hari pendaftaran SNMPTN di ITB. karena hari itu kampus rame banget maka banyak orang yang memanfaatkan momen tersebut buat mengais rejeki lebih. Di antara orang-orang tersebut adalah tukang2 parkir. Mereka manfaatin pinggiran jalan buat lahan parkiran meskipun itu jelas2 ilegal. Yah, tapi mau gimana lagi, lahan parkir kampus ITB dah ga bisa menampung kendaraan yang berdatangan.

Karena hari itu rame banget, para tukang parkir memasang tarif parkir 400% dari tarif biasa (normalnya Rp 500,-). Buset dah! pikir gw tu mahal banget, kayaknya ni tukang parkir pada mau buruan naik haji. Nah, kebetulan hari itu gw ke kampus make motor temen, karena lahan parkir kampus dah penuh terpaksa parkir di pinggir jalan. Tukang parkir yang ‘bertanggung jawab’ di pinggir jalan tersebut langsung mendekati gw sambil ngasih karcis parkir ‘bo’ongan’. “Dua ribu rupiah mas” kata tukang parkir itu. Tentu saja gw langsung ngelunjak protes, “2000??kok mahal banget??!” kata gw. Gw cuma ngasih 1000 rupiah ke tukang parkir. Si tukang parkir itupun ngalah karena males memperpanjang perdebatan, Haha…itu juga masih untung gw kasih 1000 rupiah.

Pengalaman yang kedua baru gw alamin hari ini. Tadi pagi pas berangkat kuliah pake motor, gw parkir di parkiran Seni Rupa (salah satu lahan parkir kampus 24 jam). Setelah parkir gw langsung menuju kelas. Kurang lebih 5 menit jalan, gw baru ingat kalo lupa ngambil kunci motor dari kontaknya. Gw buru2 ke parkiran buat ngambil. Pas sampai di parkiran motor yang gw bawa dah g ada! Aduuh, gw langusng panik nyari2 motor tapi tetep g ketemu2.

Gw langsung ngelapor ke tukang parkir. Tukang parkir tu langsung menginterogasi gw untuk menanyakan informasi untuk ‘investigasi’. Gw juga disuruh ngisi form laporan seperti dibawah ini:

Nama :

NIM:

Jurusan:

Infak:

Paraf:

Awalnya gw ngira “infak” itu maksudnya fakultas. Kata tukang parkir itu infak (iuran faksaan) sebagai biaya buat ngurus motor yang hilang. Ya sudah, tanpa babibu pake mikir dulu gw langsung nulis 50ribu trus tanda tangan. Abis tanda tangan, bapak tukang parkir langsung nanya sambil pegang kunci motor “kunci motornya yang ini bukan?”. Gw langsung mengiyakan dengan perasaan lega. Tukang parkir langsung memperlihatkan motor saya. Ternyata ‘disembunyiin’ di pojokan parkiran. Si Tukang parkir tidak mau nyerahin kunci sebelum gw bayar 50ribu seperti yg sudah gw tulis. Wah langsung merasa abis dikerjain nih sama tukang parkir.

Karena waktu tu isi dompet lagi kering, gw musti ke ATM dulu buat ngambil duit. Abis kuliah gw ke parkiran buat ngambil motor. Gw bujuk si tukang parkir supaya infaknya 20ribu aja (klo 50ribu bisa tekor gw). Untungnya si tukang parkir g keberatan.

Dari pengalaman ini gw dapat pelajaran supaya gak terlalu gegabah kalo seluruhnya belum jelas. That’s all!

Protected: Curahan hati…

•June 6, 2009 • Enter your password to view comments

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Potong Rambut

•May 6, 2009 • Leave a Comment

Kira-kira 3 minggu yang lalu saya ke Jakarta ketemu ortu. Mereka lagi di Jakarta buat ngurus keberangkatan ke Mesir buat jenguk cucu kembarnya. Saya tidak nginap sih soalnya besoknya saya ada kuliah. Praktis di Jakarta saya cuma 4 jam.

Sampai di rumah kerabat tempat ortu nginap saya langsung makan siang.  Pas makan tu Ibu saya langsung muncul. Awalnya kayaknya Ibu g mengenali saya soalnya penampilan dah banyak berubah terutama gaya rambut (gondrong abiiis! :-P ). Ibu langsung marah2 pas tahu klo cowo gondrong yg lagi makan tu saya. Ibu saya memang sensitif sama masalah beginian (siigh…). Katanya Ibu tidak mau ngajakin ngomong bahkan salaman klo rambut saya masih kayak gitu (gondrong), aduuh… :-(

Saya jadi bingung soalnya saya cuma bentar doang di Jakarta (takut g sempat potong). Akhirnya k’hamim menawarkan diri buat motong rambut saya. Saya mau aja sih demi Ibu meskipun saya g tau k’hamim punya pengalaman motong rambut atau g. Tapi pas ngeliat hasilnya lumayanlah untuk situasi yang darurat kayak tadi, meskipun masih agak kurang rapi. Abis itu saya baru bisa ngomong sama Ibu. Hufff…

Pindah Kosan

•May 6, 2009 • Leave a Comment

Sudah 2 bulan ini saya meninggalkan asarama kidang pananjung. Saya pindah dan memilih ngekos di kebon bibit bandung. Alasan pindah sih karena g betah aja. Sekarang udah pewe banget di kosan. Meskipun kamarnya g terlalu gede tapi lumayanlah. Fasilitas juga ok dengan living cost 350 ribu per bulan. Itu juga dibagi dua sama temen sekamar,haha..

Saya memilih kebon bibit karena satu lokasi dengan kontrakan temen2 CSS ITB, jadi saya bisa lebih sering silaturahmi. Selain itu lokasinya juga cukup strategis untuk mahasiswa seperti saya, dekat dengan gedung Annex (gedung pusat administrasi ITB), klo mau ke kampus juga jalan kaki 10 menit atau naik angkot sekali, makanan2 di warteg juga lumayan murah jadi kanker bisa dihindari, hehe..

Bingung…bingung…

•May 6, 2009 • Leave a Comment

Hishashiburi ne? dah lama nih saya g update blog.
Akhir2 ini saya bingung aktivitas apa yang mau dikerjain. Kebanyakan waktu saya habisin buat nonton film, dorama dan semacamnya. Tugas2 kuliah juga sering telat nih beresnya (aduuuh…cape deh)

Monday Night bareng UKSSers

•January 23, 2009 • Leave a Comment

foto bareng di ciwalkSenin (20/01/09) ba’da maghrib saya mampir di sekre UKSS, ternyata ada banyak temen yang lagi kumpul-kumpul. Ada yang nge-netlah, main PES, main gitar dll. Pas saya baru masuk ke sekre, temen-temen pada ngajakin buat nonton bareng di Ciwalk. Saya langsung nolak soalnya lagi gak da duit, hiks. Tapi temen-temen tetep maksa supaya saya ikut (kayaknya klo gw gak ada gak rame,hehe). Akhirnya saya ngadain permainan pake kartu, aturannya klo saya kalah (urutan paling akhir) saya jadi ikut nonton. Ternyata saya malah keluar sebagai juara, jadinya keputusannya saya gak ikut. Tapi temen-temen tetap bersikeras ngajakin (hoho), akhirnya saya kasih kesempatan main sekali lagi buat ngalahin saya. Permainan kali ini gak segampang tadi soalnya mereka pada kerja sama buat ngalahin saya. Hasilnya, saya bener-bener kalah. Saya gak bisa ngelak lagi dan akhirnya ikutan nonton (pinjem duit temen dulu,hiks).

champion balalaBeberapa dari kami naik angkot caheum-ciroyom menuju Ciwalk, yang lain nyusul. Pas sampe disana ternyata kami agak telat, film (street king) yg rencananya pingin ditonton dah mulai sekitar 10 menit yg sebelumnya. Akhirnya kita mutusin nonton street king-nya yg jam 9 aja. Setelah beli tiket nonton, kami pergi makan dulu soalnya film baru mulai satu setengah jam lagi. Salah seorang temen nyaranin buat makan di Platinum (di ciwalk juga) aja soalnya di sana ada tantangan menarik buat ngabisin nasi goreng double size dengan hadiah voucher makan. Akhirnya kami ke sana bareng-bareng dan sama-sama pesan nasi goreng double size itu. Pas liat di gambar sih kayaknya nasinya banyaaaak banget, jadi 2 orang temen pesimis dan mutusin buat makan berdua aja (biasalah cewe). Jadinya yg ikutan tantangan cuma saya, fais, austin n salma (2 terakhir tu cewe).

Pas nasi yang dah dipesan dateng, ternyata gak sebanyak yg saya liat di gambar. “Ini mah porsi makan malam tiap hari gw” begitulah pikir saya pas liat nasi goreng tu. Cuma 2 orang yg lolos tantangan ni, fais yg ngabisin dalam waktu 14 menit dan saya 14 menit 20 detik, hehe. Dua temen lainnya dah gak kuat pas di tengah-tengah tantangan meskipun austin tetep ngabisin meskipun telat, haha. Akhirnya saya dan fais berhasil dapetin voucher makan Tepanyaki gratis di Paltinum.

Selesai makan dan ngobrol2, kami langsung ke bioskop soalnya 15 menit lagi filmnya mulai. Filmnya lumayan seru, soalnya genre action thriller, meskipun banyak banget ngomong dirty word-nya, haha (biasalah film barat). Setelah selesai nonton, saya langsung cabut ke kosan temen deket ciwalk, yang lainnya ada yg ke kosan masing2 n ada juga yg balik lagi ke sekre UKSS.