Siri’ na Pacce: Masihkah kita?

Takunjunga’ bangung turu’, nakugunciri’ gulingku, kualleangnga tallanga natoalia.(Layarku telah kukembangkan, kemudiku telah kupasang, kupilih tenggelam daripada melangkah surut)

– Syair Sinrilik Makassar

 

Apa yang menjadikan Karaeng Pattingalloang, Perdana Menteri Kerajaan Gowa pada abad XVII menguasai delapan bahasa, matematika, astronomi, pembuatan benteng dan perahu galley, persenjataan dan lain-lain? Semangat apa yang ada di benak Sultan Hasanuddin yang habis-habisan memimpin perlawanan melawan Belanda? Lantas apa yang menggerakkan Karaeng Bonto Marannu dan Karaeng Galesong menenggelamkan kapal-kapal Belanda yang mereka temui di perairan Jawa sesaat ditandatanganinya perjanjian Bungaya yang merugikan Kerajaan Gowa? Seorang tukang kebun di awal tahun 80an bernama Saleh membunuh majikannya, seorang bupati di daerah Sulawesi Selatan beserta istrinya karena anak gadis Saleh yang menjadi pembantu rumah tangga di rumah yang sama dihamili oleh sang bupati? Apa persamaan weltanschauung yang menggerakkan mereka? Jawabannya adalah Siri’ na Pacce (Siri’ dan Pacce).

Satu kata yang sering disandingkan dengan Siri’ adalah Pacce. Secara bagus, digambarkan oleh Andaya (1979) : …In the term of Siri’ are contained two seemingly contradictory meanings; it can means ‘shame’. But also ‘self esteem’ or ‘self respect’… The second important element is the concept of Pacce (Makassar)/ Pesse (Bugis). In everyday usage it means ‘to smart’ and ‘poignant’, but it express a more subtle and intimate emotion than the literal meaning would suggest, as can be seen from the following Makassar and Bugis sayings : (Makassar) : Ikambe Mangkasaraka, punna tasiri’, pacceseng nipabbulosibatangngang. Trans : If it is not Siri’ which makes us, the Makassar People, one, then it is pacce (Bugis) : Ia sempugikku rekkua de’na siri’na engka messa pessena. Trans : If there is no longer siri’ among us Bugis, at least there is certain to be pesse. Jadi Pacce berarti semacam kecerdasan emosional untuk turut merasakan kepedihan atau sesusahan individu lain dalam komunitas.

Laica Marzuki (1995) menyebut dalam disertasinya bahwa pacce sebagai prinsip solidaritas dari individu Bugis Makassar dan menunjuk prinsip getteng, lempu, acca, warani (tegas, lurus, pintar, berani) sebagai empat ciri utama yang menentukan ada tidaknya Siri’.

Dua term ini (Siri’ dan Pacce) adalah konsep tunggal yang mesti berjalan bersamaan untuk disebut sebagai manusia. Siri’ tanpa Pacce atau sebaliknya akan menjadikan semacam split personality dalam diri orang bugis makassar. Tetapi sering kita mendengar ungkapan pepatah Makassar mengatakan : Punna tena Siri’nu pa’niaki paccenu! (Kalau sudah tidak memiliki Siri’ lagi, maka perlihatkan paccemu!). Ini sebagai sindiran untuk orang yang harkat martabatnya jatuh dan sekaligus juga tidak turut merasa pedih atas keperihan orang lain.

Pesan Karaeng Pattingalloang, Perdana Menteri Gowa sekaligus Raja Tallo (1639-1653) yang sarat nilai Siri’ dan Pacce berikut masih sangat relevan untuk kita jadikan pelajaran berbangsa dan bernegara : “Limai pammanjenganna matena butta lompoa. Uru-uruna punna teya nipakainga karaeng ma’gauka; makaruwanna punna taena tumangngasseng ilalang pa’rasangang lompo; makatallunna punna mangngalle soso’ gallarrang mabbicarayya; makaappa’na punna majai gau’ ilalang pa’rasangang malompoa; makalimanna punna tanakamaseang atanna karaeng ma’gauka” ( Ada lima sebab sehingga sebuah negeri rusak ; Pertama, kalau raja yang memerintah tidak mau diperingati; kedua, kalau tidak ada cendekiawan dalam suatu Negara besar;ketiga, kalau para hakim dan pejabat-pejabat kerajaan makan sogok; keempat, kalau terlampau banyak kejadian-kejadian besar dalam suatu Negara; kelima, kalau raja tidak menyayangi rakyatnya).

Jika saja semua orang bugis makassar khususnya dan Indonesia memegang teguh dan menjalankannya dengan penuh pride and dignity. Pertanyaannya adalah : Masihkah kita?

source: http://sosbud.kompasiana.com/2010/03/17/siri-na-pacce-masihkah-kita/

2 thoughts on “Siri’ na Pacce: Masihkah kita?

  1. saya sangat tertarik dengan ulasan kanda seputar siri’ na pacce ini, dalam hal ini saya ingin bertanya :
    -sebagai seorang yang sadar akan konsep siri’ na pacce tersebut mka saya menanyakan kepada kakandaku ini hal yang mesti di lakukan dalam mengantisipasi disintegrasi siri’ na pacce tersebut apa???
    -dalam era yang makin banyak hal/aspek yang tidak jelas ini, kira kira aspek manakah yang sangat berperan dalam hal tersebut?

  2. pertama-tama harus tahu dulu ttg konsep siri’ na pacce,terus coba kenali akar budaya kita sbg org bugis (obama juga melakukan ini),bentengi diri dari hal-hal negatif,,,

    klo mksud dari prtanyaan kedua adalah mana yg lebih berperan antara siri’ dgn pacce di masa skrg ini, maka jawabannya tidak ada, siri’ dan pacce ini harus jalan beriringan, satu kesatuan yg tdk bisa dipisahkan. klo terpisah akan jd timpang nantinya.

    anyway,tulisan di atas bukan saya yg mengulas,,,silakan liat sourcenya =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s