Ma’rifatullah (Mengenal Allah)

Tulisan ini adalah makalah yang saya tulis dalam rangka UAS mentoring AAEI, selamat menikmati, selamat mengkritisi!🙂

Pada hakikatnya, fitrah kita sebagai manusia mengakui keberadaan Allah. Mustahil bagi kita untuk menolak fitrah tersebut, karena dalam Al Qur’an disebutkan bahwa sebelum kita dilahirkan ke dunia ini,  kita pernah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan kita.

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturuna anak-anak Adam dari sulbi mereka dan mengambil kesaksian terhada jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami melakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS. Al A’raf (7): 172)

Karena pengakuan manusia terhadap keberadaan Tuhan tersebut, maka dalam sejarahnya, manusia selalu mencari-cari siapa sebenarnya Tuhan. Mereka mengakui keberadaan Tuhan tapi belum mengetahui identitas Tuhan. Dari pencarian tersebut, maka muncullah kepercayaan-kepercayaan yang menjadikan selain Allah sebagai Tuhan, seperti kepercayaan animisme, dinamisme dan sebagainya yang sudah pasti melenceng dari jalur ketauhidan. Hal ini wajar, karena manusia tidak akan mampu mencapai (mengenal) siapa identitas Tuhan yang sesungguhnya hanya dengan bermodalkan logika dan fitrah pengakuan tersebut.

Terkait proses pencarian manusia terhadap siapa Tuhan, maka kisah Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam Al Qur’an bisa menggambarkan hal tersebut.

“Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin.

Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) ia berkata: ”Inilah Tuhanku”. Maka ketika bintang itu terbenam, dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang terbenam.”

Kemudian ketika dia melihat bulan terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.”

Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini lebih besar”, maka ketika matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Wahai kaumku! sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Al An’am (6): 75-79)

Proses pencarian Tuhan yang dilakukan Nabi Ibrahim tersebut merupakan proses pencarian Tuhan yang menggunakan logika yang jernih sehingga beliau bisa sampai pada kesimpulan (pada ayat terakhir) yang tidak melenceng dari jalur ketauhidan.

Pencarian Tuhan yang dilakukan manusia (bahkan Nabi Ibrahim sekalipun) tetap saja belum mampu menjelaskan siapa identitas Tuhan sebenarnya. Maka dari itulah, Allah mengutus para rasul untuk memperkenalkan dirinya kepada manusia. Rasul-lah yang menerima wahyu langsung dari Allah dan menyampaikannya kepada umat manusia. Dari sinilah manusia bisa mengetahui siapa identitas Tuhan yang sebenarnya.

Hanya saja, pengetahuan akan identitas Allah sebagai Tuhan beserta ajaran Tauhid yang dibawa para nabi dan rasul haruslah dibarengi dengan landasan iman, tidak cukup dengan akal saja. Karena tanpa iman, tentu manusia tidak akan bisa menerima hal tersebut sehingga menyebabkan mereka sesat dari jalan ketauhidan.

Bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa tak ada duanya, yang menciptakan langit dan bumi dengan semua keteraturannya. Selain itu, para rasul juga memperkenalkan sifat-sifat Allah, apa yang Dia sukai dan apa yang Dia benci, dan apa yang dia perintahkan serta apa yang Dia larang, dan sebagainya. Kesemuanya ini terangkum dalam ajaran Tauhid yang dibawa oleh semua rasul secara bertahap hingga pada akhirnya disempurnakan oleh Allah melalui RasulNya yang terakhir Nabi Muhammad SAW melalui ajaran Islam.

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan ni’matKu bagimu, dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agamamu.” (Al Maidah (5): 3)

Mazharulhaq Mattugengkeng-15207090

Sekian sharingnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s