Last Night Thoughts

Kemarin saya dapat kunjungan silaturrahim di kosan dari seorang teman. Teman saya yg satu ini memang inspiratif sekali buat saya. Setiap kunjungannya kita pasti ngobrolnya gak sia-sia (insyaallah), soalnya dia suka menyinggung banyak hal yg bermanfaat seprti hikmah atau pelajaran yg pernah dia dapat, dishare sama saya. Makanya obrolan kita yg santai itu sebenarnya buat saya kayak mentoring, haha… Makanya saya senang sekali setiap kali dia datang berkunjung ke kosan.

Temang saya ini juga suka sekali bercerita banyak tentang mimpi-mimpi, cita-cita dan obsesinya. Mau bikin pesantren yg lebih hebat dari Gontor, perguruan tinggi seperti ITB yg islami, lanjtukan S2 ke arkeologi Islam, keliling dunia, menikah jika menang sayembara bulan depan dan banyak lagi. Mungkin buat dia makin sering cerita ke orang lain otomatis akan didoakan lebih banyak, memang saya doakan sih, hee… Saat dia cerita2 seperti itu, saya jadi teringat sendiri dengan mimpi-mimpi saya, ya Allah saya ini ngapain aja sampai melalaikan mimpi-mimpi yang sudah saya tulis, sepertinya sudah nyasar terlalu jauh. Ngelamunnya terlalu lama sampe g nyadar klo ‘bahtera’ hidup yg saya layari ini mengarah ke arah yg g sesuai dengan ‘kompas mimpi’.

Memang berkah punya teman2 yg keberadaanya saja yg tanpa kata sudah bisa mengingatkan dan menginspirasi kita, subhanallah…🙂

Kawan yg satu ini sempat mengingatkan saya tentang produktivitas dalam hidup. Ternyata tidur saya selama ini kebanyakan. Bayangkan saja, saya asumsikan tidur saya tiap malamnya rata2 5 jam, trus jatah hidup kita anggaplah 60-70 tahun. Berarti selama itu saya menghabiskan waktu untuk tidur saja kurang lebih 15 tahun! Seperempat jatah hidup saja hanya untuk tidur! Woah, what was I thinkin’? Yah, memang hitungan seperti ini tidak sesaklek itu juga dijadikan pegangan hidup, tapi buat perenungan bolehlah.

Ulama2 kita dahulu yg produktif sekali dalam menulis kitab2 memang hebat dalam manajemen tidur dan aktivitas ibadahnya. Kata temen saya kita bisa belajar banyak dari buku2 sirah para tabiin dan ulama2 terdahulu. Saya jg lg nyari2 bukunya nih.

Ada seorang ulama yg sangat produktif (Imam Ahmad klo g salah –a) pernah berkata begini “Laa raahata lil mu’miniina illa fil jannah…” = “Tidak ada istirahat bagi orang2 yg beriman kecuali di surga…”

Ada juga ulama yg berpikir seperti ini saat hampir tertidur: “Bagaimana mungkin aku bisa tidur sekarang sedangkan aku tidak tahu akan masuk surga atau tidak?”

Silakan direnungkan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s