Mukjizat Cinta & Titian Nabi

 

 

 

 

 

 

 

Saya baru saja menyelesaikan membaca 2 novel, Mukjizat Cinta dan Titian Nabi, karya Muhammad Masykur A. R. Said. Sekarang saya ingin berbagi sedikit tentang apa yang saya dapatkan dari kedua novel ini sekaligus memenuhi janji saya kepada Sang Penulis untuk memberikan testimonišŸ˜€

Kedua novel ini sama-sama bercerita tentang cinta. Perjalanan cinta, perjuangannya, suka dukanya, efek positif dan negatif yang bisa ditimbulkannya, hingga kita dibawa pada ending berbeda tentang cinta yang sesungguhnya, yang hakiki dan yang diridhoi-Nya.

Dalam Mukjizat Cinta, saya melihat betapa besarnya kekuatan cinta dalam persahabatan Afdhal dengan Syamsul, bagaimana seorang Afdhal berjuang dengan ikhlas demi memenuhi amanah yang diberikan sahabatnya. Demikian pula Syamsul yang siap memberikan segala yang dimilikinya untuk Afdhal. Sebuah persahabatan erat yang dilandaskan cinta kepada Dzat yang penuh cinta, Allah…

Saya juga merasakan betapa sulitnya lika-liku kehidupan cinta yang dilalui Siti Zubaedah, Amal Hayati dan juga Fatmah. Siti Zubaedah yang merasakan sakit yang amat sangat setelah merasa terkhianati oleh cintanya, Amal Hayati yang sebaliknya merasa sakit karena merasa telah mengkhianati cintanya, dan perihnya Fatmah yang cintanya belum mampu menembus hati suaminya di awal-awal pernikahan mereka. Hingga Allah menunjukkan kuasa cinta-Nya dengan membukakan hati Siti Zubaedah untuk memaafkan Syamsul, Amal Hayati dipertemukan dengan belahan jiwanya dan Fatmah yang akhirnya mampu meraih cinta suaminya. Dan jadilah menjadi wanita-wanita berhati mulia di sisi-Nya. Akhir yg indah dari sebuah cinta yang memang dilandasi niat awal nan suci. Rencana Allah memang selalu indah, hendaklah kita senantiasa berbaik sangka pada-Nya. Itulah salah satu pesan dan nilai yang dapatkan dari novel Mukjizat Cinta ini.

Selanjutnya dalam Titian Nabi, perjuangan seorang Fauzan Attar sebagai dengan kekasihnya Zahratul Jamilah yang harus menerima pahitnya kenyataan dalam cinta. Hingga Allah menunjukkan kepada mereka berdua jalan menuju cinta-Nya yang hakiki. Sosok sahabat sejati dalam diri Abdul Malik dan Aisyah yang senantiasa berada di samping sahabatnya dalam suka dukanya dan senantiasa mengingatkan saat mereka salah dan bingung arah. Kebijakan dan kedalaman ilmu Ustad Muzakkir dalam nasihat-nasihat cintanya kepada Zahra saat dia dirundung duka lara. Lika-liku perjalanan hidup mahasiswa Al Azhar University. Hingga cinta tak berbatas yang ditunjukkan Nafisah dan Mallawang kepada putrinya.

Sebuah pesan utama (menurut saya) yang patut direnungkan dari novel ini adalah, “Ahbib habiibaka haunan maa, ‘asaa an yakuuna baghiidhaka yauman maa…” Cintailah apa yg kamu cintai secara tidak berlebihan, karena boleh jadi ia akan menjadi kebencianmu suatu hari nanti… Ya, jangan berlebihan mencinta sesuatu yg bisa saja mengecewakanmu suatu hari nanti, senantiasalah sandarkan cintamu kepada Dzat yang tidak akan pernah mengecewakanmu, itulah cinta yang sesungguhnya yg saya tangkap dari makna pesan tersebut.

Tentunya masih ada banyak hal lagi yang tidak bisa saya sampaikan semua di sini, termasuk penuhnya kedua novel ini dengan pesan-pesan tausiyah yang menggugah ruhiyah serta sisipan nilai-nilai budaya orang Bugis. Silakan kawan-kawan menikmati langsung dari novelnya saja, hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s